Connect Us

Makalah Filsafat Ilmu

Posted by @Fathnan.Id_ on Januari 05, 2018


BAB I
PENDAHULUAN
filsafat ilmu

A.    Latar Belakang Masalah

Manusia hidup didunia tidak hanya memerlukan kebutuhan pokok saja. Akan tetapi manusia juga memerlukan informasi untuk mengetahui keadaan di lingkungan sekitar mereka. Dalam upaya untuk memperoleh informasi, manusia seringkali melakukan komunikasi ataupun cara-cara lain yang bisa digunakan. Salah satu informasi yang didapat dari komunikasi adalah pengetahuan. Pengetahuan sangat diperlukan bagi kehidupan manusia karena dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan. Dalam mencari pengetahuan, tak jarang manusia harus mempelajari Epistemologi. Epistemologi disebut juga sebagai teori pengetahuan karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia, termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu manusia yang bersifat gamblang, merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan.

Sejak semula, epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. Sebab epistemologi menjangkau permasalahan- permasalahan yang membentang luas, sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. Selain itu pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. Oleh sebab itu, perlu diketahui apa saja yang menjadi dasar-dasar pengetahuan yang dapat digunakan manusia untuk mengembangkan diri dalam mengikuti perkembangan informasi yang pesat.



Menurut Dwi Hamlyn yang dikutip oleh Bakhtiar Epistemologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan ilmu atau teori pengetahuan. Epistemologi adalah cabang filsafat yang memberikan fokus perhatian pada sifat dan ruang lingkup pengetahuan. Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan hakikat dan lingkungan pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.



B.     Rumusan Masalah



1.   Bagaimana Pengertian Epistemologi Ilmu?



2.   Bagamana Proses Cara mendapatkan Ilmu?



3.   Bagaimana Cara mengukur kebenaran Ilmu?



C.    Tujuan Penulisn Makalah



4.   Mengetahui Pengertian Epistemologi Ilmu?



5.   Mengetahui Proses dan Cara mendapatkan Ilmu?



6.   Mengetahui Cara mengukur kebenaran Ilmu





BAB II



PEMBAHASAN



A.    Pengertian Epistemologi Ilmu



Epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran dan logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi “theory of knowledge”.[2]

Menurut Sudarsono epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena itu sistematika penulisan epistemology adalah terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori pengetahuan. [3]

Sedangkan Pengertian Ilmu (science) dapat ditinjau dari dua segi pertama Segi semantik yaitu: Kata ilmu berasal dari bahasa arab, a’lama yang berarti pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata sciensce dalam bahasa inggris, tetapi ia merupakan serapan dari bahasa latin, scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa scientia yang berarti pengetahuan dan aktivitas mengetahui.[4]

Menurut H. Endang Saifuddin Anshari ilmu adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal-ikhwal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya[5]

pemikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental5. Dari beberapa definisi tentang ilmu di atas, bila ditinjau dari segi maknanya menunjukkan sekurang-kurangnnya tiga hal, yakni aktivitas, metode, dan pengetahuan. Tetapi, pengertian ilmu sebagai aktivitas, metode, dan pengetahuan itu lebih mendalam sesungguhnya tidak bertentangan. Bahkan sebaliknya, ketiga hal itu merupakan kesatuan yang logis yang mesti ada secara berurutan. [6]

Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Kesatuan dan interaksi di antara aktivitas, metode, dan pengetahuan yang boleh dikatakan menyusun diri menjadi ilmu.

Sesuai dengan cakupan filsafat ilmu, maka pada bagian ini kita pahami epistemologi ilmu yakni menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan objek ilmu, cara-cara yang ditempuh dalam memperoleh ilmu, mengukurnya serta cara kerja metode ilmiah.[7]

B. Proses dan Cara mendapatkan Ilmu


1. Obyek Pengetahuan

Obyek Pengetahuan sain (Obyek yang diteliti sain) adalah semua obyek yang empiris, jujun menyatakan bahwa objek kajian sain hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman adalah pengalaman indera.[8]

2. Terjadinya Pengetahuan

Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang sangat urgen untuk  dibahas di dalam Epistemologi, sebab orang akan berbeda pandangan terhadap terjadinya pengetahuan. Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya.

pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam hal, diantaranya:[9]

3. Pengalaman Indera (Sense Experience)

Orang sering merasa penginderaan merupakan alat yang paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap objek dari luar diri manusia melalui kekuatan indera. Kesalahan akan terjadi apabila ada ketidak normalan antara alat-alat itu. Dengan demikian bahwa indra merupakan sumber dan alat makrifat dan pengetahuan ialah hal yang sama sekali tidak disangsikan.

4. Nalar (Reason)

Nalar adalah salah satu corak berfikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapatkan pengetahuan baru.

5. Otoritas (Authority)

Otoritas adalah kekuasaan yang sah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya. Otoritas menjadi salah satu sumber pengetahuan, karena kelompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang mempunyai kewibawaan dalam pengetahuannya. Pengetahuan yang diperoleh dari otoritas ini biasanya tanpa diuji lagi, karena orang yang telah menyampaikannya mempunyai kewibaan tertentu.

6. Intuisi (Intuition)

Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia berupa proses kejiwaan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu untuk membuat pernyataan yang berupa pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi tidak dapat dibuktikan seketika atau melalui kenyataan karena pengetahuan ini muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu.

7. Wahyu (Revelation)

Sebagai manusia yang beragama pasti meyakini bahwa wahyu merupakan sumber ilmu, Karena diyakini bahwa wahyu itu bukanlah buatan manusia tetapi buatan Tuhan Yang Maha Esa. Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada nabi-Nya untuk kepentingan ummatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu melalui kepercayaan kita.

8. Keyakinan (Faith)

Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Adapun keyakinan itu sangat statis, kecuali ada bukti-bukti yang akurat dan cocok untuk kepercayaannya.[10]

9. Metode Ilmiah

Setelah mengalami pengalaman maka sebuah pengetahuan tidak dapat dikategorikan ilmu sebelum melalui beberapa metode ilmiah. Secara etimologi metode berasal dari kata Yunani methodos, sambungan kata depan meta (menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri lalu berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah.

Metode ialah cara bertindak menurut sistem/ aturan tertentu. Menurut Suraijo[11], Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Dalam sains dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, yang terbanyak dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan.

 Pelaksanaan metode ilmiah ini meliputi enam tahap, yaitu:

a)      Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.

b)     Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.

c)      Menyusun hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka. Hipotesis ialah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Belum atau tidak ada bukti empiris bukanlah merupakan bukti bahwa hipotesis itu salah. Hipotesis itu benar, bila logis. Ada atau tidak ada bukti empirisnya adalah soal lain. Kelogisan suatu hipotesis juga teori lebih penting daripada bukti empirisnya.[12]

d)     Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.

e)      Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).

f)       Menguji kesimpulan. Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang.

Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori. Metode ilmiah didasari oleh sikap ilmiah. Sikap ilmiah semestinya dimiliki oleh setiap penelitian dan ilmuwan.

Menurut Jafar sikap ilmiah[13] yang dimaksud adalah :

1)   Rasa ingin tahu

2)   Jujur (menerima kenyataan hasil penelitian dan tidak mengada-ada)

3)   Objektif (sesuai fakta yang ada, dan tidak dipengaruhi oleh perasaan pribadi).

4)   Tekun (tidak putus asa)

5)   Teliti (tidak ceroboh dan tidak melakukan kesalahan)

6)   Terbuka (mau menerima pendapat yang benar dari orang lain).

10.  Ciri-Ciri Ilmu

Dengan memiliki persoalan keilmuan pada dasarnya masalah yang terkandung dalam ilmu adalah selalu harus merupakan suatu problema yang telah diketahuinya atau yang ingin diketahuinya, kemudian ada suatu penelitian agar dapat diperoleh kejelasan tentunya dengan mempergunakan metode yang relevan untuk mencapai kebenaran yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.

Menurut Liang Gie[14] Ilmu Pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987) mempunyai 5 ciri pokok:

a.       empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan;

b.      sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;

c.       objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perorangan dan kesukaan pribadi;

d.      analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu;

e.       verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga[15]

Sedangkan demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus bekerja dengan cara ilmiah. Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat- syarat yang intinya adalah:

a.       Ilmu harus mempunyai objek, ini berarti bahwa kebenaran yang hendak diungkapkan dan dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya.

b.      Ilmu harus mempunyai metode, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran yang objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi.

c.       Ilmu harus sistematik, ini berarti bahwa dalam memberikan pengalaman, objeknya dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang terartur.Ilmu bersifat universal, ini berarti bahwa kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak mengenai sesuatu yang bersifat khusus, melainkan kebenaran itu berlaku umum.

Disamping itu yang perlu disadari, yakni ilmu bukanlah hal yang statis, melainkan bergerak dinamis sesuai dengan pengembangan yang diusahakan oleh manusia dalam mengungkapkan tabir alam semesta ini. Usaha pengembangan tersebut mempunyai arti juga bahwa kebenaran yang masih terbuka untuk diuji[16].

a.       Cara Mengukur Kebenaran Ilmu

Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua cara yang dapat ditempuh oleh manusia yaitu dengan cara non ilmiah dan cara ilmiah.

Menurut ahli filsafat pengetahuan yang benar pada mulanya diperoleh melalui cara non ilmiah di banding dengan cara ilmiah, hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya pikir manusia.

Teori yang ditemukan harus dapat diuji keajekan dan kejituan internalnya. Artinya, jika penelitian ulang dilakukan dengan langkah-langkah serupa pada kondisi yang sama maka akan diperoleh hasil yang sama atau hampir sama.

Untuk sampai pada kebenaran ilmiah ini, maka harus melewati 3 tahapan berpikir ilmiah yang harus dilewati, yaitu:

1) Skeptik

2) Analitik

3) Kritis.

Pendekatan ilmiah menuntut dilakukan cara-cara atau langkah- langkah tertentu dengan perurutan tertentu pula agar dapat dicapai pengetahuan yang benar. Namun, tidak semua orang suka melewati tata tertib pendekatan ilmiah itu untuk sampai pada pengetahuan yang benar mengenai hal yang dipertanyakannya.

Bahkan di kalangan masyarakat awam untuk memperoleh pengetahuan yang benar lebih baik suka menggunakan pendekatan non ilmiah.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran melalui cara non ilmiah, di antaranya adalah:

a.       Akal sehat.

b.      Prasangka.

c.       Pendekatan intuisi.

d.      Penemuan kebetulan dan coba-coba

e.       Pendekatan otoritas ilmiah dan pikiran kritis.

Bila kita hendak mengukur kebenaran ilmu, pada intinya kita mengukur kebenaran teori,karena isi dari ilmu adalah teori-teori. Pada awalnya kita mengajukan hipotesis, selanjutnya hipotesis diuji secara logika, contoh: “Ketika datang hari raya idul fitri, kebutuhan masyarakat Indonesia secara umum terhadap sandang dan pangan akan meningkat”.Menurut teori bahkan hukum ekonomi (penawaran dan permintaan), hipotesis ini lebih cenderung benar, karena itu tentu akan ada pihak-pihak yang berkesempatan untuk meraih keuntungan yang banyak. Secara uji logika, momentum idul fitri akan meningkatkan harga-harga kebutuhan pokok, menjadi suatu hal yang rasional, dan luluslah ia.

Untuk meyakinkannya maka adakan peninjauan ke pasar-pasar dan tanyakan pada para pedagang dan pembeli tentang perkembangan harga- harga tersebut. Bila ternyata benar, uji empiris atau pengalaman lapangan menunjukan demikian, maka hipotesis secara logika dan empirik benar adanya, kemudian menjadi teori. Dan jika demikian terjadi pada setiap moment idul fitri, maka teori meningkat menjadi hukum atau aksioma.

Dengan demikian hipotesis yang kita rumuskan hendaknya telah mengandung kebenaran secara logika, sehingga kelanjutannya tinggal kebenaran empirisnyalah yang perlu dibuktikan. Hipotesis ialah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Belum atau tidak ada bukti empiris bukanlah merupakan bukti bahwa hipotesis itu salah. Hipotesis itu benar, bila logis. Ada atau tidak ada bukti empirisnya adalah soal lain. Kelogisan suatu hipotesis juga teori lebih penting daripada bukti empirisnya.[17]

Jika hipotesis terbukti, maka pada saatnya ia menjadi teori. Jika sesutau teori selalu benar, yaitu jika teori itu naik tingkat keberadaannya maka menjadi hukum atau aksioma.





BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan



1.      Epistemologi ilmu adalah hal-hal yang berkaitan dengan objek ilmu, cara-cara yang ditempuh dalam memperoleh ilmu, dan cara mengukur kebenarannya, serta cara kerja metode ilmiah.



2.      Obyek Pengetahuan sain (Obyek yang diteliti sain) adalah semua obyek yang empiris.



3.      Pengetahuan adalah semua hal yang didapat berdasarkan: Pengalaman Indera (Sense Experience), Nalar (Reason). Otoritas (Authority), Intuisi (Intuition), Wahyu (Revelation), Keyakinan (Faith).



4.      Pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu setelah mengalami metode ilmiah yang terdiri dari, Merumuskan masalah, Mengumpulkan keterangan, Menyusun hipotesis, Menguji hipotesis, Mengolah data, Menguji kesimpulan.



5.      Pengetahuan dapat dikatan sebagai Ilmu apabila mempunyai karalteristik sebagi berikut: Ilmu harus mempunyai objek, Ilmu harus mempunyai metode, Ilmu harus sistematik.



B.     Untuk menguji kebenaran maka yang harus kita lakukan adalah pengujian hipotesis, hipotesis terbukti, maka pada saatnya ia menjadi teori. Jika sesutau teori selalu benar, yaitu jika teori itu naik tingkat keberadaannya maka menjadi hukum atau aksioma.



C.    Saran



Hendaknya setiap mahasiswa dan praktisi pendidikan mengetaui dan menerapkan epistemologi ilmu, agar dapat menumbuhkan sikap berpikir kritis sesuai dengan kaidah ilmiah dan mengerti cara mendapatkan ilmu dengan benar.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, epistemology dan aksiologi penegetahuan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Bakhtiar Amsal . Filsafat Ilmu, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu dan Hakikat Menuju Nilai, Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2006.
Endang Sifuddin Anshari, Ilmu Filsafat & Agma, Surabaya, PT Bina Ilmu, 1979. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu,Jakarta, Rineka Cipta, 2010.
 John Hoppers, An Introduction to Philosophical Analysis, terjemahan oleh Dr. Sukirman, M.Psi, Bandung. (Online Http//Digilib/ITB,ID 158392, Diakses Hari Rabu Tanggal 1 november Pukul 10.00 WIB)
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Sinar  Harapan, 1994.
Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta, Rineka Cipta, 2001.
Surajiyo, Ilmu filsafat Suatu Pengantar, Jakarta, Bumi Aksara, 2009.
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Liberty Yogyakarta, 200 Zulkarnaen Jafar, Epistemologi Ilmu Pengetahuan, dalam
http://zulkarnaenjafar.blogspot.com/2011/10/epistemologi-ilmu- pengetahuan.html (diakses pada hari rabu tanggal 1 november pukul 11.00 WIB)


Nama Anda
New Johny WussUpdated: Januari 05, 2018

0 komentar:

Posting Komentar

Like us on Facebook

Top Ads

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Flexible Home Layout

Tabs

Entri yang Diunggulkan

Cara Optimasi Seo Blogspot agar artikel Page One dengan mudah di Google

Cara optimasi SEO blogspot berbeda dengan cara Optimasi SEO on page wordpress. SEO on page blogspot Bisa dikatakan dioptimalkan secara kese...

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Main menu section

Sub menu section

Search This Blog

Follow Us

Hot in week

Page

Side Ads

Comments

Footer Ads

Recent

CB